Senin, 13 Juli 2009


സെരിട സെരിട

Profil Kabupaten Garut

Secara geografis Kabupaten Garut terletak pada koordinat 6o57'34" - 7o44'57" Lintang Selatan dan 107o24'34" - 108o34" Bujur Timur, dengan luas wilayah sekitar 3.065,19 km2. Disebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur.

Dengan jenis tanah yang terdiri dari sedimen letusan Gunung Papandayan dan Guntur, tanah di kabupaten ini memang subur, baik untuk sawah, tegalan maupun kebun campuran. Selain itu dengan daerahnya yang cukup luas, kabupaten ini merupakan daerah pertanian yang lebih condong pada usaha agrobisnis dan agroindustri. Pertanian tanaman pangan mendominasi perekonomian ini.Yang utama dari tanaman pangan ini adalah padi dan jagung, sementara palawija, sayur mayur dan buah-buahan unggulan adalah kedelai, kacang tanah, kentang, kubis, cabai, tomat, jeruk, pisang dan alpukat. Kecamatan Bungbulang, Tarogong, dan Samarang merupakan kecamatan utama penghasil padi. Di tingkat Provinsi Jawa Barat, hasil padi Garut memang belum dapat menyaingi tiga besar daerah produsen padi yaitu Subang, Karawang dan Indramayu.Selain padi, tanaman pangan andalan lainnya adalah jeruk dan teh.

Dalam lapangan usaha pertanian, kontribusi dua komoditas ini memang tidak besar tapi jika dilihat dari sisi perdagangan, keduanya termasuk kebanggaan daerah.Penghasil jeruk di daerah ini adalah Kecamatan Samarang, Cisurupan, Bayongbong, Pasirwangi dan Tarogong.Saingan terdekat jeruk Garut adalah Tasikmalaya Jeruk. Selain jeruk, juga ada teh. Produksi teh yang dihasilkan berupa teh hijau dan teh hitam. Teh hitam sendiri banyak dihasilkan di Kecamatan Cilawu, Cikajang, Cisurupan, dan Pakenjeng, sedangkan teh hijau kebanyakan berasal dari Cisurupan. Walaupun produksi teh garut masih dibawah Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Sukabumi, namun komoditas ini juga menjadi komoditas ekspor ke banyak negara.

Industri kulit juga hadir di kabupaten ini. Sebagian besar terkonsentrasi di daerah Sukaregang Kecamatan Garut Kota. Masih ada pula usaha sutera alam yang tersebar di Kecamatan Tarogong, Pameungpeuk dan Wanaraja.

Garut Bukan Sekedar Kota Dodol

Garut, kota di tenggara Bandung sudah amat kesohor. Terutama makanan khasnya dodol. Namun ternyata kota ini juga punya pesona alam yang memikat selain potensi wisata sejarahnya. Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 WIB, kami pun turun dari Tangkuban Perahu untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Garut. Kota yang sangat terkenal dengan pangannya berupa dodol. Siapa pun yang berkunjung ke Garut, pasti tidak lupa membawa dodol sebagai oleh-oleh. Ternyata hampir sama dengan Subang, di Kota Garut banyak sekali objek wisata yang dapat dikunjungi dan sangat menarik. Banyak yang tidak mengetahui kalau di Kota Garut terdapat candi umat Hindu yang dibangun pada abad ke-8. Candi itu dikenal dengan sebutan Candi Cangkuang, karena terletak di tengah-tengah Danau Cangkuang.

Kota Garut sendiri terletak sekitar 63 km di Tenggara Kota Bandung. Kota ini merupakan daerah dataran tinggi yang dikelilingi sejumlah puncak gunung yang sebagian besar merupakan gunung vulkanis. Karena Garut dikelilingi gunung vulkanis membuat daerah Garut menjadi kawasan pertanian yang sangat subur.

Untuk menuju kota Garut, dari Bandung kita masuk tol Cileunyi lalu masuk ke daerah Nagrek. Dari Bandung sendiri perjalanan menuju kota Garut memakan waktu sekitar 2 jam kurang. Saat memasuki Kota Garut, akan ditandai dengan gapura selamat datang. Lalu jalan beberapa meter kemudian, akan terlihat tugu Kota Intan yang terletak di daerah Tarogong. Tugu ini menyerupai intan berlian yang duduk di atas tahtanya. Tugu ini merupakan simbol dari kota Garut. Juga bisa merupakan moto Garut sebagai kota yang Indah, Tertib, Anyam dan Nyaman (Intan).

Sesampainya di kota ini, tujuan pertama kami bukan mencari dodol, tetapi menuju ke sebuah perkampungan modern tempat melepas lelah. Ya.. Kampung Sampireun, suasana desa yang sangat unik. Kampung ini terletak di Jalan Raya Samarang- Kamojang, Garut.

Perjalanan dari Bandung menuju Garut kami lalui dengan cukup lancar, pemandangan yang berada di sebelah kanan dan kiri kami sungguh sangat memanjakan mata dan menenangkan pikiran. Kami melewati jalan berliku dengan pemandangan yang tidak kalah indahnya.

Candi Cangkuang

Siang esok harinya, kami bertolak menuju objek wisata lainnya. Perjalanan saat itu menuju Candi Cangkuang. Candi ini terletak di 10 km Utara Garut di dekat Leles. Candi ini berasal dari abad ke-8 dan merupakan salah satu candi peninggalan umat Hindu yang terdapat di Jawa Barat. Uniknya, candi ini terletak di tengah danau Cangkuang.

Untuk menuju ke kawasan candi, kami harus melewati jalan yang terjal dan berliku sepanjang 4 kilometer. Jalan yang kami susuri pun sangat kecil dan hanya cukup untuk untuk satu mobil saja. Jadi wajar, saat berpapasan dengan mobil lain yang beda arah, mobil lainnya harus mengalah masuk ke dalam semak-semak atau keluar sementara dari jalan. Memang melelahkan. Namun, pemandangan alam yang alami dan sangat desa ternyata cukup menghibur semangat kami untuk tetap bertahan.

Akhirnya kami tiba juga di kawasan Candi Cangkuang. Tapi, untuk memasuki kawasan candi, kami harus menyeberangi danau dengan menggunakan rakit yang telah disediakan oleh pihak pengelola. Penyeberangan memakan waktu tidak lebih dari lima menit Dari kejauhan, dapat terlihat kawasan candi yang menyerupai bukit kecil dan terlihat sangat rimbun ditumbuhi oleh pepohonan. Setelah merapat, kami langsung turun dari rakit, menyusuri jalan setapak yang dibuat tangga dari batu-batu alam.

Cipanas

Cipanas merupakan objek wisata yang terkenal di kota Garut. Dia terletak di 6 km Barat Laut (BL) kota Garut, tepatnya di kaki Gunung Guntur. Kawasan wisata yang relatif kecil ini memiliki sumber mata air panas yang disalurkan ke kolam-kolam dan pemandian yang terdapat di berbagai penginapan di Cipanas. Tempat ini biasanya menjadi base (pangkalan) sebelum menjelajahi beberapa objek wisata lain di sekitarnya.

Sekitar 3 km dari Cipanas melalui jalan yang mendaki ke arah Gunung Guntur terdapat air terjun Curug Citiis. Dari lokasi air terjun ini wisatawan dapat melanjutkan pendakian selama 4 jam ke puncak Gunung Guntur. Air panas di daerah Cipanas ini berbeda dengan air panas yang ada di Ciater.

Di Cipanas, air hangat yang disalurkan ke objek-objek wisata sama sekali tidak mengandung unsur belerang, tetapi mengandung unsur yodium. Dapat dibayangkan bagaimana khasiat dari air hangat tersebut.

Air yang ada di Cipanas, seolah tidak akan ada habisnya, selalu mengalir dan mengisi bak-bak penampungan air tempat-tempat yang ada di sekitarnya. Tidak heran sepanjang daerah Cipanas, banyak sekali penginapan-penginapan yang menjadikan air panas sebagai daya tarik utamanya. Karena memang daerah tersebut merupakan sumber air hangat di Garut.

Siang itu terbilang cukup ramai di kawasan Cipanas. Banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melepas lelah dengan berendam di kolam air panas. Karena harganya yang relatif murah, maka banyak warga sekitar yang sering berkunjung ke sini, entah untuk bersantai atau hanya sekadar berkumpul dengan teman-teman.

Adu Domba

Rasanya ingin berlama-lama berendam air hangat di Cipanas, tetapi ada acara lain yang sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja. Karena acara ini biasanya dilaksanakan tiap musim panas atau setiap bulan Juni saja, yaitu adu domba atau pertarungan dua domba jantan.

Acara kali ini diadakan di kota Garut, tepatnya di lapangan Rancabango-Tarogong. Dalam acara ini yang diperlombakan antara lain, adu ketangkasan dan kontes domba. Jadi tidak hanya adu domba saja yang digelar, tetapi juga kontes domba pedaging terbaik dan domba betina tersehat.

Acara dilaksanakan pada tanggal 10-11 Juni 2006. Dengan diiringi suara gendang, gong serta teriakan dari penoton yang memberikan semangat, dua ekor domba yang memiliki tanduk kuat saling bertarung dengan membenturkan kepala mereka sebanyak 20 hingga 25 kali.

Pertandingan diatur oleh seorang wasit yang akan memutuskan pemenang dari pertarungan ini. Pesertanya sendiri tidak hanya datang dari Garut saja, tetapi hampir dari seluruh kota di Jawa Barat. Seperti Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Cirebon dan lain-lainnya.

Pagi itu, saat tiba di lapangan Rancabango, kami melihat lapangan telah dipadati oleh para domba yang diikat ke sebuah pasak yang terbuat dari bambu. Mereka juga dipisahkan berdasarkan berat badan dan jenis kelaminnya.

Sekilas, memang kumpulan domba yang diberi berbagai pernak pernik tersebut memang lucu. Namun, naluri petarungnya muncul begitu mereka melihat domba lain yang melintas di hadapannya. Aksi saling seruduk pun dimulai, tapi tak sampai parah, karena keburu dipisah oleh empunya, karena pertandingan belum dimulai.

Tepat pukul 08.00 WIB pertarungan dimulai. Dua domba yang telah diumumkan namanya maju ke arena diseret pemiliknya masing-masing. Arena tersebut dikelilingi oleh tiga orang penilai dan satu orang wasit yang berada di tengah lapangan. Lama pertandingan berlangsung sekitar 3 menit, dan biasanya domba-domba tersebut membenturkan kepalanya sebanyak 20 hingga 25 kali.

Namun, sebelum jumlah benturan terlaksana, wasit berhak menghentikan pertarungan, bila dilihatnya salah satu domba telah mengalami cedera. Bahkan, jika terlihat parah, domba tersebut bisa saja dieksekusi agar tak menderita lebih lama.

Domba yang akan bertarung selalu diiringi dengan gamelan, begitu mereka mendengar alunan gamelan dengan otomatis mereka akan segera mengambil posisi masing-masing. Dalam hitungan detik kedua domba itu berlari ke arah lawan masing-masing dengan kecepatan tinggi, lalu terdengarlah bunyi benturan tanduk yang sangat keras.

Ada beberapa domba yang terlihat pusing, karena begitu bertabrakkan domba itu diam di tempat sambil menggoyangkan kepalanya. Lalu ketika gamelan tersebut mulai mengeluarkan suaranya lagi, maka kedua domba itu kembali mengambil posisi menyerang.

Di atas podium dekat para pemain gamelan, ada seseorang yang bertugas menghitung berapa kali domba-domba tersebut membenturkan kepalanya. Bila sudah mencapai angka 20-25 kali, dengan otomatis wasit akan meniup peluit tanda pertandingan berakhir.

Potensi Kota Garut

Cipanas.

Terletak 6 Km dari Garut tepatnya di kaki Gunung Guntur yang sensual, Cipanas merupakan resort wisata utama di Garut dengan pemandian air panas belereng paling bening di Indonesia. Dengan fasilitas resort, hotel dan restaurant berbagai kelas, kolam renang, kamar rendam, serta aksesibilitas yang sangat mudah menjadikan Cipanas sebagai objek unggulan di Garut.

Ngamplang.

Ngamplang adalah resort wisata peninggalan kolonial Belanda dengan nama sinatorium Ngamplang dan pernah dikunjungi oleh Charlie Chaplin, Ratu Belanda, Perdana mentri Perancis serta para pejabat lainya. Saat ini Ngamplang berfungsi sebagai Golf Course 9 Hole dengan latar depan Garut kota dan latar belakang Gunung Cikuray.

Candi Cangkuang.

Satu-satunya candi Hindu paling lengkap yang telah direstorasi di Jawa Barat peninggalan abad ke VII terletak di sebuah pulau di tengah danau / situ Cangkuang, dimana terdapat pula enam buah rumah adat yang dinamakan Kampung Pulo. Dengan rakit bambu anda menyebrangi Situ Cangkuang yang ditumbuhi teratai untuk mencapai Candi dan kampung Pulo. Dengan melewati sawah sejauh mata memandang , lokasinya hanya 16 Km dari Garut kota, atau sekitar 45 Km dari kota Bandung.

Situ Cangkuang.

Merupakan situ terluas di Garut, dengan luas sekitar 124 Ha. Berjarak sekitar 14 Km dari kota Garut melewati jalan yang diapit sawah yang luas. Anda bisa mengelilingi situ ini dengan menggunakan rakit bambu milik masyarakat pariwisata setempat sambil menikmati segarnya udara pegunungan.

Curug Orok.

Curug / air terjun Orok terletak di perkebunan teh papandayan, air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 20 Meter. Keunikan air terjun ini ialah terdapatnya sungai sungai bawah tanah berair sangat bening. Curug Orok terdapat sekitar 35 Km dari kota Garut ke arah Bungbulang.

Curug Citiis.

Letaknya berdekatan dengan Cipanas, bisa dicapai dengan berjalan kaki ke sebelah utara sekitar 2 Km dengan jalan yang mendaki. Sumber air terjun ini berasal dari Gunung Guntur.

Curug Cihangawar.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 15 meter, terletak di kaki gunung Cikuray. Berjarak sekitar 15 Km dari kota Garut, bisa dicapai dengan menggunakan angkutan kota 06.

Curug Neglasari.

Air terjun ini terletak di perkebunan Neglasari. Keunikan curug ini ialah jathan airnya bertingkat-tingkat, sehingg amemilik keindahan yang khas.

Rancabuaya.

Dengan karakteristik pantai selatan yang ganas karena langsung berhadapan dengan samudera hindia, namun sangat nyaman untuk dinikmati baik dari bibir pantai dengan aksesoris pelabuhan tradisional, maupun dilihat dari atas tebing dihiasi dengan ribuan burung walet. Berjarak seitar 120 Km dari kota Garut, atau sekitar 4 jam perjalanan melalui Bungulang atau melalui Pamengpeuk. Fasilitas cukup lenkap untuk para petualang, seperti penginapan dan warung-arung makan, tetapi jangan mengharapkan penginapan mewah atau restautant mewah di tempat ini, karena semuanya masih terlihat sederhana, namun disinilah letak keeksotisanya.

Kawah Papandayan.

Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2.638 m di atas permukaan laut merupakan gunung api yang masih aktif namun sangat aman untuk dikunjungi sampai ke bibir kawahnya. Gunung ini memiliki beberapa buah kawah yang dinamai kawah baru, kawah mas, kawah nangklak dan kawah manuk. Berjarak sekitar 29 Km di selatan kota Garut, objek-objek yang patut anda kunjungi di lokasi Gunung Papandayan antara lain Pondok saladah, tegal alun, tegal panjang, padang edelweis, dll.

Karang Parane.

Merupakan sebuah batu karang tunggal yang menjulang di bibir pantai muara sungai Cicelang, sekutar 85 Km dari kota Garut. Karang ini sering digunakan untuk tempat pemancingan yang sangat mengasyikan.

Saneang.

Leweung sancang (hutan) dengan luas sekitar 2.500 Hektar dilegendakan sebagai tempat mangkatnya prabu siliwangi dan pengikutnya yang menurut kepercayaan masyarakat setempat menjelma menjadi pohon kaboa, sejenis pohon bakau. Kawasan ini sangat cocok untuk kawasan penelitian lingkungan hidup dan kehutanan dengan kelengkapan flora dan fauna tropis, juga cocok untuk wisata petualangan dan memancing

Kawah Kamojang.

Kawah kamojang merupakan objek wisata alam liar semenjak zaman penjajahan Belanda. Berada di tengah hutan belantara, pada ketinggian sekitar 2000 meter dari permukaan laut dengan kekayaan flora dan fauna yang sangat melimpah serta kekayaan sumber daya alam yaitu panas bumi yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Asia. Wilayah ini terdapat di perbatasan antara Garut dan Bandung, namun lebih mudah dijangkau dari kota Garut.

Santolo.

Salah satu pantai paling populer di Garut, lokasinya sekitar 88 Km dari kota Garut. Tiba di pantai ini kita bisa langsung bersampan kecil menyebrangi muara untuk menuju ke pulau Santolo. Di tempat ini kita akan menjumpai pintu air peninggalan Belanda. Pantai ini berbentuk teluk. Keunikanya ialah permukaan pantai sebelah selatan lebih tinggi dari permukaan pantai sebelah utara, sehingga terbentuk curugan.

Sayang Heulang.

Pantai ini bersebelahan langsung dengan pantai Santolo, dipisahkan oleh sebuah sungai kecil dimana terdapat fenomena dimana air laut turun ke sungai air tawar. Di sini juga terdapat gugusan karang dangkal sehingga bisa dinikmati langsung tanpa harus menyelam.

Situs Ciburuy.

Sekitar 17 Km dari Garut kota terletak di kampung Ciburuy, desa Pamalayan, Kec. Cigedung. Situs Ciburuy diperkirakan merupakan situs purbakala tertua di garut yang sudah ditata dan dikelola. Terdapat naskah kuno tentang pedoman hidup damai yang ditulis pada daun lontar dan nipah dan disimpan di bumo padaleman, juga senjata seperti keris, tumbak / tombak, trisula, kujang dan alat musik goong renteng yang merupakan cikal bakal kesenian degung disimpan di bale patemon. Untuk perbekalan terdapat leuwit atau lumbung padi. Upacara ritual di tempat ini dilaksanakan pada minggu ke tiga bulan Muharam pada malam kamis pukul 19:30 yang disebut upacara Seba.

Kampung Adat Dukuh.

Terletak 8 Km sebelah utara Kec. Cikelet, Kampung Dukuh berdiri sekitar tahun 1700-an, terdiri dari 40 rumah adat Sunda yang sederhana, memiliki sumber mata air keramat, makam keramat, daerah tutupan, larangan,cadangan, garapan dan titipan. Kampung ini dipimpin oleh seorang kuncen untuk urusan adat, di kampung ini tidak boleh menggunakan peralatan modern. Kesederhanaan, persatuan dengan alam, hormat kepada yang lebih tua dan menjalankan syariat Islam adalah sebagian dari tradisi kehidupan sehari-hari kampung dukuh. Acara ritual dilakukan pada tanggal 12 Maulud sebagai peringatan berdirinya Kampung Dukuh.

Garut Tetapkan Satuan Kawasan Wisata Unggulan

Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat menetapkan Satuan Kawasan Wisata Unggulan (SKWU) meliputi empat lokasi yaitu Cipanas, Situ Cangkuang, Situ Bagendit, dan kawasan gunung api Papandayan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Yati Rochyati, Senin (25/5) mengatakan hingga kini pihaknya paling mengunggulkan empat SKWU yang dinilai sangat potensial untuk 'dijual' pada pasar wisata domestik maupun internasional.

SKW Cipanas di Kecamatan Tarogong Kidul memiliki daya tarik taman rekreasi dan kolam renang air panas alami, serta tersedianya sarana olahraga joging. Selain itu lokasi objek wisata strategis dengan jarak hanya 6km dari pusat Kota Garut dengan areal seluas 9.335 m2.

Disusul SKW Situ Cangkuang, di Kecamatan Leles atau 17 km dari pusat Kota Garut memiliki daya tarik candi serta hamparan perairan danau, berasal dari nama pohon cangkuang (Pandanus Furcatus), yang banyak terdapat seputar makam Embah Dalem Arif Muhammad.

Menurut kisah turun-temurun warga setempat, Arif Muhammad beserta rekannya yang membendung daerah ini sehingga terbentuk danau yang hingga kini dikenal dengan sebutan "Situ Cangkuang", sedangkan Arif Muhammad berasal dari kerajaan Mataram Jawa Timur.

Ia datang bersama pasukannya untuk menyerang VOC di Batavia sekaligus menyebarkan agama Islam di desa Cangkuang, yang ketika itu penduduknya menganut agama Hindu sehingga meski kini warganya memeluk agama Islam, namun mereka masih menjalankan sebagian ajaran agama Hindu, katanya.

Kawasannya seluas 340,755 Ha, selama ini kerap dikunjungi wisatawan domestik dari Bandung, Bogor dan Jakarta, juga wisatawan mancanegara asal Belanda, Jerman, Perancis serta Jepang, rata-rata pengeluaran wisatawan di kawasan tersebut diatas Rp 100.000, dengan lama tinggal 3 - 6 jam yang setiap bulannya dikunjungi sekitar 3000 orang, katanya.

Sedangkan Situ Bagendit, di desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi dengan objek wisata alam berupa danau memiliki aktivitas wisata antara lain menikmati pemandangan, berkeliling danau menggunakan perahu atau rakit, juga dapat melakukan rekreasi keluarga serta kegiatan berspeda air.

Fasilitas yang tersedia berupa penyewaan 60 unit rakit dengan tarif Rp.25.000/15 menit, 11 unit sepeda air bertariff Rp.10.000/15 menit, terdapat pula beberapa bangku taman dan 6 buah shelter yang disewakan untuk pengunjung dengan harga Rp.3.000/jam.

Selain itu tersedia kereta api mini dengan tarif Rp.2.000 dan kolam renang dikawasan ini, yang berjarak 4 km dari pusat Kota Garut, selama ini ramai dikunjungi wisatawan dari Sukabumi, Bogor, Bandung dan Jakarta, dengan jumlah pengunjung setiap pekannya berkisar 400-600 orang, katanya.

Sementara itu SKW gunungapi Papandayan, di Kecamatan Cisurupan atau 27 km dari pusat Kota Garut memiliki daya tarik kawah beraneka warna serta kawasan kaldera terluas se Asia Tenggara, dengan luas kawasan objek ini 7132 Ha.

Terdiri Cagar Alam (CA) seluas 6807 Ha dan Taman Wisata Alam (TWA) 225 Ha, berketinggian 2.622 mdpl dengan banyak kawah aktif diantaranya 4 kawah yang meletus pada 2002 yakni Kawah Baru, Kawah Nangklak dan dua Kawah 2002, ungkap Yati Rochyati.

Juga memiliki dua lokasi bumi perkemahan, terdiri Pondok Salada berjarak 3 km dari pintu masuk ke arah puncak dengan luas 2 Ha dan "Camp David" terletak di belakang parkiran dengan luas 1 ha, yang tersedia fasilitas tempat api unggun dan lapangan upacara.

Aksesbilitas di kawasan ini berupa jalan raya dari Garut - Pameungpeuk sepanjang 80 km dan lebar 6 m, serta jalan aksesnya termasuk jalan kabupaten sepanjang 9 km dengan lebar 5 km serta juga setapak dari tempat parkir ke kawah sepanjang 1 km.

Daya tarik lainnya berupa hutan Cagar Alam yang khusus untuk kegiatan penelitian dan pendidikan, seperti dari ITB yang rutin dilakukan setiap tahun, serta perkebunan teh di luar kawasan milik PTPN VIII Sedep, Bandung.

Aktivitas yang utama dapat dilakukan yakni traking, hiking, fotografi dan rekreasi hutan pada TWA sedangkan aktivitas penunjangnya ialah penelitian fauna dan flora di CA serta kegiatan rekreasi dan berkemah dapat di lakukan di TWA, ungkapnya. (Ant/OL-01) (25 Mei 2009).

Harga Batu Permata Garut Sangat Wah?

Potensi batu aji (setengah permata) hasil penggalian di Kecamatan Caringin Garut, memiliki nilai ekonomi tinggi bahkan bisa dijadikan komoditi ekspor, jika diolah secara profesional oleh sumber daya manusia yang memadai.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda setempat Budiman menyatakan Sabtu, terdapat berbagai jenis batu akik di daerahnya, yang dapat dipesan seperti liontin batu untuk cincin dan giwang.

Sedangkan jenis yang popular selama ini, batu berwarna hijau muda terdiri krisopras - Jamrud Garut, native copper (Batu Urat Tembaga), agat, kuarsa/kalsedon (kecubung), kriskola, jaspir, fosil kayu terkersikkan.

"Mata dagangan tersebut berpeluang diekspor ke mancanegara, dengan prospek cukup cerah, diantaranya jenis krisopras bisa mencapai harga US$ 300/kg, serta fosil kayu pancawarna bernilai US$ 25/kg," katanya.

Selama ini dikelola oleh sekurangnya 69 unit usaha yang menyerap 203 tenaga kerja, dengan nilai investasi Rp 64 juta rupiah dan bernilai produksi sebesar Rp 2,5 miliar rupiah per tahun.

Di sisi lain, ia mengatakan sejak jaman Belanda, Kabupaten Garut juga memiliki industri sutera alam, yang dipelajari dan dirintis oleh H. Aman Sahuri (Almarhum), kemudian kini diteruskan oleh puteranya.

Sutra Garut menjadi pelopor industri sutra di tanah air, sehingga Kabupaten Garut pernah mendapatkan Upakarti, karena produksinya menjadi komoditas unggulan dengan kualitas tinggi.

"Industri tersebut bisa berkembang di daerah ini, karena ditunjang beberapa faktor diantaranya beberapa alat tenun mesin (ATM) dapat dibuat sendiri, serta didukung keberhasilan pembudidayaan ulat sutera," ujarnya.

Potensi industri sutera alam di Garut dengan dua unit usaha, bernilai investasi Rp 160 juta dan nilai produksi Rp 5,904 miliar.

Setera itu dapat menghasilkan sebanyak 3.600 meter kain sutera per tahun, menyerap sebanyak 164 orang tenaga kerja. [*/cms] (23 Mei 2009)

Dodol Garut

Dodol memang banyak ragamnya dan pembuatannya menjadi tradisi di beberapa daerah. Misalnya ada dodol Betawi, dodol Cina, dodol nanas Subang, dan ada pula dodol Garut. Namun dibandingkan dengan dodo]-dodol lain, mungkin dodol Garut paling banyak dikenal saat ini. Bukan hanya di Garut, tetapi di tingkat nasional pun dodol ini sudah diketahui sebagai makanan khas dari Garut. Belakangan, dodol Garut juga diekspor ke mancanegara.

Seperti dodol-dodol lainnya, dodol Garut awalnya merupakan makanan tradisional yang dibuat dalam industri rumahan. Oleh karena itu, sangat sulit untuk meneliti siapa yang pertama kali membuat jenis dodol ini. Yang jelas dodol Garut sudah dikenal sejak zaman Belanda. Zaman itu, banyak noni-noni Belanda yang pandai membuat dodol, baik untuk makanan sendiri di rumah maupun untuk dijual. Seiring perkembangan zaman, dodol Garut kini diproduksi secara modern. Salah satu jenis dodol Garut yang sangat dikenal adalah dodol merk Picnic. Dodol Picnic diproduksi secara modern oleh PT Herlina Cipta Pratama di sebuah pabrik yang cukup besar di Jl. Pasundan Garut. Dodol ini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi sebagian diekspor ke mancanegara.

Sukses yang diraih Dodol Picnic tidak diperoleh begitu saja. Dodol khas Garut ini bisa dikenal seperti sekarang karena perjuangan yang gigih dan panjang Haji Iton, pengusahanya. Dalam sejarahnya Dodol Picnic pernah gonta-ganti merk dan kemasan sebagai akibat dari persaingan dan pengaruh pasar.

Pertama kali dodol ini menggunakan merk Halimah. Tahun 1950, merknya diganti menjadi dodol Fatimah. Empat tahun kemudian, yakni pada 1954, merknya diganti lagi menjadi dodol Purnama. Bungkusnya pun berubah-ubah. Awalnya hanya menggunakan kertas biasa. Kemudian diganti dengan kertas minyak dan plastik PVC.

Dari dodol Purnama berganti merk lagi menjadi dodol Herlina yang kemasannya mulai menggunakan kertas duplek. Namun merk dodol Herlina pun tidak bertahan lama, karena kemudian diubah lagi menjadi dodol Picnic hingga sekarang. Merk dodol Picnik kemudian dipatenkan pada tanggal 14 Juli 1959.

Kesuksesan pengusaha dodol Picnic meraih pasar dalam dan luar negeri banyak mendorong pengusaha dodol lainnya untuk memproduksi dodol serupa. Tak heran jika kemudian di Garut banyak ditemukan berbagai merk dodol dengan kemasan yang sangat mirip.

Kenyataan ini membuat pengusaha dodol Picnic harus berpikir keras agar dodolnya tetap memiliki karakter yang khas dan bisa dibedakan dengan dodol-dodol lain yang sejenis. Oleh karena itulah, dodol Picnic kemudian didaftarkan ke Departemen Kesehatan dan kemasannya dirancang sedemikian rupa sehingga terkesan elegan dan variatif.

Sejatinya dodol Garut banyak ragamnya. Ada dodol ketan, dodol kacang, dodol buah-buahan, ada pula angleng. Jika kita berkunjung ke toko-toko penjual oleh-oleh khas Garut, akan kita temui berbagai ragam dodol Garut dalam kemasan yang berbeda. Jika dodol ketan dan buah - buahan dibungkus dengan kertas minyak atau plastik, dodol kacang dan angleng biasanya dibungkus dengan daun jagung kering.

Dodol Garut yang Tak Pernah Surut

Dodol Garut sudah tak asing lagi sebagai makanan oleh-oleh kota di ujung selatan Jawa Barat ini. Saking terkenalnya, dodol Garut telah menjadi roda perekonomian beberapa masyarakat di sana.

Hingga kini jumlah perajin pembuat dodol Garut jumlahnya mencapai ratusan, salah satunya adalah Asep salah seorang keluarga pemilik PD Azziza di kawasan Tarogong Garut. Ia mengatakan bisnis dodol Garut masih menjanjikan.

Meski tergolong pemain baru, yang baru memulai usahanya pada tahun 2007 lalu, melalui bendera Azziza dan MS produk dodol Garut-nya cukup diperhitungkan di kawasan Garut dan beberapa kota di luar Garut termasuk di luar Pulau Jawa.

Dodol yang dibuat bermacam-macam yaitu dodol rasa original dan dodol kombinasi yang memiliki citarasa susu coklat dan duren. Selain itu, ada jenis dodol zebra yang biasa dikombinasikan dengan rasa duren, beri, mocca dan lain-lain.

Sampai saat ini ia mampu produksi 4 kwintal dodol setiap harinya, dengan omset hingga Rp 70 juta sampai Rp 80 juta per bulan. Saat ini permintaan dodol banyak berasal dari Bogor, Bandung, Tasikmalaya, Ciater, Bali dan Sumatera, Kalimantan, termasuk Jakarta dan lain-lain.

"Kalau dahulu dodol itu hanya buat oleh-oleh saja, sekarang ini dodol sudah menjadi makanan cemilan yang digemari," ucap Asep saat ditemui detikFinance, di pabriknya Tarogong Garut, Minggu (24/5/2009).

Ia menjelaskan saat ini setidaknya di kota Garut terdapat 114 pembuat dodol Garut. Biasanya permintaan tertinggi terjadi mendekati bulan-bulan Ramadan dan hari libur yang menyebabkan kapasitas terpasang para perajin melonjak drastis.

"Saking banyaknya permintaan dari luar Garut, kadang-kadang dodol kita nggak dikenal di Garut," jelasnya.

Saat ini harga dodol yang ia tawarkan untuk jenis original dan zebra mencapai Rp 12.000 per kilo. Namun ia mengeluhkan saat ini banyak sesama perajin di Garut saling banting harga sehingga persaingan tidak menjadi sehat.

"Ada juga yang jual Rp 8.000, kondisi ini karena kita belum ada asosiasinya. Padahal kalau kita kompak, pembeli mau lari kemana lagi," tukasnya.

Meski di topang oleh 24 karyawan ia mengaku sekarang ini masih kewalahan menghadapi permintaan dari berbagai kota. Biang keladinya adalah masalah perputaran modal (cashflow) yang selama ini ia rasakan cukup menghambat.

"Pihak Carrefour sudah meminta untuk memasok, tapi kendalanya cashflow," ucapnya.

Berbisnis dodol Garut, lanjut Asep, masih menjanjikan meskipun margin yang bisa didapat hanya 10%-20% asalkan diproduksi dalam jumlah besar.

"Sekarang ini masih menjanjikan, kalau dengan produksi yang tinggi," tambahnya.

Mengenai kualitas, ia berani menjamin dodol buatannya mampu bertahan lama meski tidak menggunakan bahan pengawet. Misalnya untuk dodol Zebra mampu bertahan hingga 2 bulan dan dodol original mampu bertahan hingga 3 bulan sampai 4 bulan.

"Dodol yang baik itu selain rasanya, nampak keras di luarnya tetapi dalamnya lembek," jelasnya.

Produk campuran tepung, gula dan kelapa ini, menurutnya adalah produk yang sangat mudah untuk dibuat variasinya mulai dari rasa, ukuran warna dan lain-lain. Bahkan sekarang ini banyak dodol yang dibuat tidak hanya mengandalkan tepung ketan dan terigu saja tetapi sudah memakai serat buah seperti dari pepaya, ubi dan lain-lain.

Asep menambahkan produk dodol, saat ini masih sangat melekat dengan Garut. Tidak mengherankan banyak rekan-rekannya yang mencoba berekspansi ke luar kota Garut seperti Jakarta terpaksa gagal karena kesulitan tenaga kerja. Padahal kata dia, produksi di luar Garut bisa menekan biaya produksi dan memperluas pemasaran dodol Garut.

"Beberapa kali ada yang mencoba, di daerah seperti di Jakarta, tetapi akhirnya pindah lagi untuk pulang, karena mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja terampil dan ongkos," jelasnya.

Sejarah Singkat Kabupaten Garut

Sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit.

Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cimurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci (Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun). Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh sehingga tidak tepat menjadi Ibu Kota. Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak.

Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia "kakarut" atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau "ngabaladah" tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : "Mengapa berdarah?" Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut".

Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan telaganya dinamai "Ci Garut". (Lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTPI, SLTPII, dan SLTP IV Garut). Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut.. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.

Pada tanggal 15 September 1813 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun-alun. Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat "Babancong" tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik. Setelah tempat-tempat tadi selesai dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar Tahun 1821. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Pada waktu itu, Bupati yang sedang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871-1915). Kota Garut pada saat itu meliputi tiga desa, yakni Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati. Kabupaten Garut meliputi Distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.

Pada tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakannya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). Pada masa pemerintahannya tepatnya tanggal 14 Agustus 1925, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Wewenang yang bersifat otonom berhak dijalankan Kabupaten Garut dalam beberapa hal, yakni berhubungan dengan masalah pemeliharaan jalan-jalan, jembatan-jembatan, kebersihan, dan poliklinik. Selama periode 1930-1942, Bupati yang menjabat di Kabupaten Garut adalah Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa. Ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Garut pada tahun 1929 menggantikan ayahnya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929).

Perkembangan Fisik Kota

Sampai tahun 1960-an, perkembangan fisik Kota Garut dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama (1813-1920) berkembang secara linear. Pada masa itu di Kota Garut banyak didirikan bangunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan pemerintahan, berinvestasi dalam usaha perkebunan, penggalian sumber mineral dan objek wisata. Pembangunan pemukiman penduduk, terutama disekitar alun-alun dan memanjang ke arah Timur sepanjang jalan Societeit Straat.

Periode kedua (1920-1940), Kota Garut berkembang secara konsentris. Perubahan itu terjadi karena pada periode pertama diberikan proyek pelayanan bagi penduduk. Wajah tatakota mulai berubah dengan berdirinya beberapa fasilitas kota, seperti stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan (milik orang Cina, Jepang, India dan Eropa) serta pasar.

Periode ketiga (1940-1960-an), perkembangan Kota Garut cenderung mengikuti teori inti berganda. Perkembangan ini bisa dilihat pada zona-zona perdagangan, pendidikan, pemukiman dan pertumbuhan penduduk.

Keadaan Umum Kota

Pada awal abad ke-20, Kota Garut mengacu pada pola masyarakat yang heterogen sebagai akibat arus urbanisasi. Keanekaragaman masyarakat dan pertumbuhan Kota Garut erat kaitannya dengan usaha-usaha perkebunan dan objek wisata di daerah Garut.

Orang Belanda yang berjasa dalam pembangunan perkebunan dan pertanian di daerah Garut adalah K.F Holle. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Kolonial Belanda mengabadikan nama Holle menjadi sebuah jalan di Kota Garut, yakni jalan Holle (Jl.Mandalagiri) dan membuat patung setengah dada Holle di Alun-alun Garut.

Pembukaan perkebunan-perkebunan tersebut diikuti pula dengan pembangunan hotel-hotel pada Tahun 1917. Hotel-hotel tersebut merupakan tempat menginap dan hiburan bagi para pegawai perkebunan atau wisatawan yang datang dari luar negeri. Hotel-hotel di Kota Garut , yaitu Hotel Papandayan, Hotel Villa Dolce, Hotell Belvedere, dan Hotel Van Hengel.

Di luar Kota Garut terdapat Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan di Cisurupan, Hotel Melayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Samarang dan Hotel Cilauteureun di Pameungpeuk. Berita tentang Indahnya Kota Garut tersebar ke seluruh dunia, yang menjadikan Kota Garut sebagai tempat pariwisata.

Penetapan Hari Jadi Garut

Sebagaimana sudah disepakati sejak awal, semua kalangan masyarakat Garut telah menerima bahwa hari jadi Garut bukan jatuh pada tanggal 17 Mei 1913 yaitu saat penggantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut, tetapi pada saat kawasan kota Garut mulai dibuka dan dibangun sarana prasarana sebagai persiapan ibukota Kabupaten Limbangan. Oleh karena itu, mulai tahun 1963 Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 15 September berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta Sejarah yang mengacu tanggal 15 September 1813 tersebut pada tulisan yang tertera di jembatan Leuwidaun sebelum direnovasi. Namun keyakinan masyarakat terhadap dasar pengambilan hari jadi Garut pun berubah. Dalam PERDA Kab. DT II Garut No. 11 Tahun 1981 tentang Penetapan Hari Jadi Garut yang diundangkan dalam Lembaran Daerah pada tanggal 30 Januari 1982, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut dipandang lebih tepat pada Tanggal 17 Maret 1813.

Penelusuran hari jadi Garut berpijak pada pertanyaan kapan pertama kali muncul istilah “Garut”. Seperti dijelaskan dalam Latar Belakang di atas, bahwa ungkapan itu muncul saat “ngabaladah” dalam mencari tempat untuk ibukota Kabupaten Limbangan yang diperintahkan R.A.A Adiwijaya sebagai Bupati yang dilantik pada tanggal 16 Februari 1813. Fakta tentang Jembatan Leuwidaun yang peletakkan batu pertamanya adalah tanggal 15 September 1918 juga tetap diperhitungkan. Dengan demikian, asal mula tercetus kata “Garut” adalah diyakini berada pada sebuah hari antara 16 Februari 1813 s.d. 15 September 1918.

Dari berbagai penelusuran diketahui bahwa Bupati Adiwijaya dalam membuat kebijakan selalu meminta fatwa dari sesepuh yang diduga berkebudayaan Islam karena Suci berada di sekitar Godog, makam tokoh penyebar agama Islam. Bersumber pada tradisi tata perhitungan waktu masyarakat, diperkirakan bahwa panitia yang “ngabaladah” ibukota diperintahkan pada bulan Mulud sebagai bulan yang dianggap baik pada waktu itu. “Ngabaladah” tidak mungkin dilakukan pada tanggal 1 Mulud karena kepercayaan orang Sunda pada waktu itu adalah bahwa hari baik jatuh pada saat bulan purnama antara 12-14 Mulud. Karena, 12 mulud dianggap sebagai hari puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, maka yang paling diiyakini memungkinkan untuk “ngabaladah” adalah tanggal 14 Mulud. Menurut perhitungan waktu karya Roofer, hasil konversi tanggal 14 Mulud 1228 Hijriyah itu adalah tanggal 17 Maret 1913.

Tentang Kabupaten Garut

Kabupaten Garut, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Garut. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat.

Kabupaten Garut terdiri atas 42 kecamatan, yang dibagi lagi atas 420 desa dan 19 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Garut.

Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit. Di antara gunung-gunung di Garut adalah: Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), keduanya terletak di perbatasan dengan Kabupaten Bandung, serta Gunung Cikuray (2.821 m) di selatan kota Garut.

Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Tenggara pada koordinat 6º56'49 - 7 º45'00 Lintang Selatan dan 107º25'8 - 108º7'30 Bujur Timur. Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha (3.065,19 km²) dengan batas-batas sebagai berikut :

* Utara: Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang

* Timur: Kabupaten Tasikmalaya

* Selatan: Samudera Indonesia

* Barat: Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur

Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan Kabupaten Bandung, sekaligus berperan di dalam pengendalian keseimbangan lingkungan.